

Berada di kawasan kawah Puncak Gunung Papandayan, sambil dicengkram terpaan bayu yang dingin menggigit dan menghirup bau uap belerang yang menusuk, serta diiringi bunyi gelegak dan desis uap yang berhembus kencang dari celah-celah bebatuan panas membara, mengingatkan kita akan cerita epos pewayangan Kawah Candradimuka - Kawah tempat bayi Gatotkaca digembleng menjadi satria perkasa, berkekuatan super, berotot kawat bertulang besi.
Kawah Papandayan yang memiliki keelokan yang menggetarkan kalbu ini, memang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Dikelilingi puncak-puncak bukit berbatu yang terjal, kawah Panpandayan menggelegak dan mendesis tanpa henti. Deru angin dan uap asap belerang yang mengalir terus-menerus dari ribuan celah bebatuan bekas lubang magma, mendominasi suasana yang mencekam. Hamparan kawah yang luas yang dipenuhi oleh kawah-kawah kecil seleber setengah hingga satu meter persegi ini, mempunyai nama-nama yang unik, yang mungkin diambil dari bunyi, warna, ataupun peristiwa yang mengikuti kelahirannya.
Ada yang disebut "Kawah Emas", yang selalu mengeluarkan endapan berwarna kuning keemasan. "Kawah Pengantin ", yang menurut cerita setempat untuk mengabadikan tragedi sepasang pengantin yang hilang saat berbulan madu. Ada juga "Kawah Seeng", yang mengeluarkan suara bagaikan air mendidih. "Kawah Kereta", yang selalu mendesis-desis. "Kawah Ateul", yang bisa membuat kulit menjadi gatal. "Kawah Upas", yang memiliki bebatuan mirip bunga es, dan lain-lain.
Perjalanan menuju kawah Papandayan, juga tak kalah menariknya. Hutan belukar dan perdu di pinggir jalan berbatu yang menanjak tajam, banyak ditumbuhi oleh "Edelweis Jawa" yang bertebaran membentuk kelompok-kelompok warna putih yang indah. Apalagi dipadu dengan selimut hijau sejenis tumbuhan paku-pakuan dan bunga-bunga rumput yang menempel di pinggir tebing, menyuguhkan suatu lukisan alam yang teduh.
Kekhasan Gunung Papandayan, sudah dapat dirasakan dan disaksikan sejak awal pendakian hingga tiba di kawahnya. Hamparan perkebunan teh yang menyelimuti seluruh perbukitan, sesekali dibelah oleh garis-garis jalan setapak yang ditandai dengan barisan pepohonan yang memberikan selingan menarik di tengah keseragaman pucuk-pucuk hijau daun teh. Sepanjang jalan, sejauh mata memandang, hanya kehijauan tanaman teh yang tampak. Sesekali diselingi oleh wajah ceria para pemetik teh dengan pakaian yang mencolok. Belum lagi pengalaman meliuk-liuk di jalan kerikil yang menikung serta menanjak tajam. Udara yang segar dan bebas polusi karena jauh dari hiruk-pikuk lalu-lintas kendaraan bermotor dan kelebatan hutan kawasan ini, menambah indah suasana Papandayan, sehingga makin banyak lagi yang ingin mendekap salah satu keindahan dan keelokan panorama bumi Parahyangan.
(This Journal Dedicated to All "PANTARA) - Inspiring Journey
1 komentar:
Jul, itu upload photo cari ukurannya yang kecil aja, jadi nggak menuhin space.
Sisi kanan yang kosong diisi aja pake adsgoogle, flickr atau apa aja. gratis kok...
keep on writing, bro!
Posting Komentar